Banggaku Tunduk (dioxjep)

Hari-hari masih seperti biasa, menjalankan kegiatan yang sama saja. Waktu tidak akan berhenti berputar, seperti ego kita yang semakin mengakar. Karena ego seperti menanam pohon bernama “menyesal”, di akhir cerita kita petik buah dengan hati kesal.

Aku sudah kehilangan kabarmu dan aku dengar dari sekitar hidupmu tak jauh dari kata jemu. Berbeda dengan kita dulu, tak ada sedikitpun ada kata keluh. Karena dulu cinta menjalankan segala, sekarang materi sudah begitu sesak memenuhi kepala.

Tapi aku menghargai setiap keputusan, walau akhirnya kamu sering mengeluh menyesal.

Tenang, ini tak akan lama, kamu orang baik dan Tuhan tak akan selalu memberimu hidup yang merana. Aku menyanyangimu, doa baik selalu tak lupa aku sebut untuk kamu. Sekarang lawanlah dunia, hingga kamu bisa tertawa di akhir usia.

Banggaku sempat kenal denganmu. Seperti apa pun dirimu sekarang, kamu tetap seperti laut yang membutuhkan karang. Laut adalah dunia dan karang adalah kamu; seberapa kuat laut menghempas kamu tetap kuat takan goyah, menghilangkan pikiran orang yang bilang hidupmu tak berarah.

Di hadapanmu banggaku selalu membuatku tunduk dan jika ada kesempatan ingatkan aku untuk memeluk, kamu.

Tatapan Itu

Tatapan itu masih sama kayak biasanya, penuh misteri, teka teki yang gabisa aku pecahkan, kamu ga bakal tau, ini hati capek ngertiin tatapan itu, tatapan menusuk itu.

Dimulai dari pagi saat itu, aku bahkan tak mengharapkan kehadiranmu, aku berangkat sekolah membawa secangkir kebahagiaan untuk teman-temanku, termasuk kamu jika masih ingin mengenalku, dan dari sekian lama liburanku, sekian lama aku mengabaikanmu, melupakanmu, tidak perdulikan kamu, aku dihadapkan kenyataan kalo aku bakal ketemu kamu lagi, ditempat kita biasa bercanda tertawa sama-sama, ditempat dua tahun kita belajar sama-sama, iya, kelas.

Continue reading Tatapan Itu